Langkau ke kandungan utama

Catatan

Tunjukkan catatan dari Oktober, 2026

Kubah Berkabut di Tebing Tigris (Renungan Bala Jerebu)

  Dari pagar Kampus, sarjana tua berdiri memerhati, kabut asap menyelimuti kota, ibarat nafas sang naga keluar dari bumi, membaham pohon dan margasatwa. Setiap marhaen sesak dada. Disebalik gunung, alam disiksa, api menyala. Lantaran nafsu manusia yang dambakan untung. Sarjana tua berasa letih. Dia berpaling ke kampus, melihat menara moden nan megah, menyimpan ilmu setinggi gunung. Dinding tembus pandang kaca berkilat, tercalar dek kabut akal. Dia bertanya, dimanakah rakan-rakanku yang bijaksana? Mengapa kabus terus menyelimuti alam? mengapa sang naga terus mendengus? Di manakah senjata akal gedung ilmu? Dimanakah pahlawan tinta yang mampu mengajar naga? mengapa ini terus berlaku? Dia tersentak, sebuah mercedes mewah profesor unggul, meluncur laju disebelahnya, keluar meninggalkan kampus. Mungkin dia ingin lari dari kabut kampus, mungkin ingin lari dari ditanya. Entahkan bergegas ke lapangan terbang untuk bercuti keluar negara bersama keluarga, mencari langit biru tanpa noda. Dia k...